Bandung (BRS) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung menemukan sejumlah aspek higiene dan sanitasi yang masih perlu diperbaiki pada sebuah restoran di Jalan Pasirkaliki yang diduga berkaitan dengan munculnya kasus gangguan kesehatan setelah konsumsi makanan.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Bandung, Dewi Primasari, mengatakan temuan tersebut diperoleh setelah tim Kesehatan Lingkungan bersama Tim Reaksi Cepat melakukan inspeksi kesehatan lingkungan ke restoran tersebut.
“Secara umum dari pemeriksaan awal memang masih ada beberapa hal terkait higiene dan sanitasi yang perlu diperbaiki lagi oleh pihak restoran,” ucap Dewi di Bandung, kemarin.
Pemeriksaan meliputi penataan lokasi, kondisi peralatan, penyimpanan bahan makanan, hingga penerapan prosedur operasional standar (SOP).
Dewi mengatakan, salah satu hal yang menjadi perhatian adalah penataan bahan makanan segar dan kering. Bahan makanan juga perlu dipisahkan dari bahan kimia, seperti cairan pembersih dan sabun pencuci piring.
“Masih perlu diperbaiki pemisahan-pemisahannya. Kemudian karena lokasinya tidak begitu luas, perlu penataan ulang,” katanya.
Dinkes juga menemukan penerapan sistem first in first out (FIFO) dan first expired first out (FEFO) dalam penyimpanan serta penggunaan bahan makanan belum terlihat secara jelas.
Selain kondisi sarana dan penyimpanan bahan makanan, perilaku penjamah makanan turut menjadi perhatian. Para pekerja yang terlibat dalam pengolahan dan penyajian makanan diminta menggunakan perlindungan diri, seperti masker dan penutup rambut.
“Dari faktor perilaku, penjamah makanan juga perlu diperbaiki. Pelindung dirinya, masker, kemudian yang tidak berkerudung atau laki-laki menggunakan hair net,” tutur Dewi.
Rekomendasi perbaikan telah disampaikan kepada pengelola restoran. Dinkes selanjutnya akan melakukan pemantauan bersama puskesmas untuk memastikan rekomendasi tersebut ditindaklanjuti.
“Biasanya kalau ada kasus seperti ini kita agak lebih intensif pemantauannya,” kata Dewi.
Di sisi lain, Dinkes Kota Bandung masih melakukan penelusuran terhadap warga yang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari restoran tersebut.
Hingga Selasa (6/10/2026) sore, sebanyak 24 kasus telah dilaporkan kepada Dinkes melalui berbagai jalur. Laporan berasal dari puskesmas maupun masyarakat yang menyampaikan informasi melalui kanal media sosial Dinkes.
“Kami juga masih update terus. Sampai tadi sore yang sudah terlaporkan kepada kami melalui berbagai jalur itu 24 kasus,” ujarnya.
Dewi mengatakan jumlah tersebut masih dapat berubah karena proses pelaporan dan penelusuran masih berlangsung. Masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari restoran tersebut juga diminta segera melapor ke puskesmas terdekat atau kanal resmi Dinkes Kota Bandung.
Berdasarkan laporan yang diterima, waktu munculnya gejala berbeda-beda. Gejala paling cepat dilaporkan muncul sekitar dua jam setelah mengonsumsi makanan, sedangkan paling lambat sekitar 12 jam.
Keluhan yang dilaporkan antara lain sakit perut, mual, muntah, hingga buang air besar cair atau diare.
Dinkes masih melakukan investigasi dengan mengonfirmasi laporan, menelusuri kasus, serta memeriksa kondisi warga yang mengalami gejala. Tim juga telah mendatangi pengelola restoran dan konsumen yang melaporkan gangguan kesehatan.
“Kita melakukan investigasi langsung ke lapangan, ke pengelola resto, kemudian ke konsumen yang melaporkan. Kita cek sejauh mana kondisinya sekarang dan disarankan berobat,” jelas Dewi.
Namun, proses pemeriksaan lebih lanjut terkendala karena restoran tidak memiliki sampel makanan yang disimpan. Padahal, sampel makanan dapat digunakan untuk membantu pemeriksaan guna mengetahui kemungkinan penyebab gangguan kesehatan.
“Idealnya itu seharusnya ada pemeriksaan sampel, tetapi ternyata restoran ini tidak menyimpan sampel. Jadi tadi masih sebatas edukasi,” katanya.
Dinkes Kota Bandung masih memantau dan menelusuri laporan masyarakat karena warga yang diduga mengalami gangguan kesehatan berada di berbagai lokasi. Proses tersebut dilakukan dengan koordinasi bersama puskesmas dan masyarakat yang menyampaikan laporan.
Gambar: Ilustrasi Restoran/ AI Gemini














