New York (BRS) – Kemampuan sebuah negara memproduksi vaksin sendiri harus dipandang sebagai infrastruktur strategis, setara dengan jalan, pelabuhan, dan jaringan listrik.
Pesan itu disampaikan Direktur Utama Bio Farma Shadiq Akasya dalam forum internasional di sela Sidang Umum PBB ke-81 di New York, Senin (22/9/2026).
“Ketika kita berbicara tentang integrasi kawasan, biasanya yang terlintas adalah jalan, pelabuhan, dan jaringan listrik. Namun, pandemi menunjukkan kepada kita sesuatu yang lain. Kemampuan untuk memproduksi vaksin di kawasan sendiri juga merupakan infrastruktur yang sangat penting,” ucap Shadiq, dikutip dari siaran pers Bio Farma, Jumat (25/9/2026).
“Dalam situasi krisis, ketika pasokan berhenti di perbatasan, kemampuan produksi di dalam negeri menjadi sangat krusial,” tegasnya dalam side event bertajuk “Promoting Regional Integration through South-South and Triangular Cooperation”, yang digelar Islamic Development Bank (IsDB) dan UNOSSC.
Forum tersebut mempertemukan pembuat kebijakan, lembaga pembangunan, dan sektor swasta untuk membahas penguatan integrasi kawasan melalui kerja sama Selatan-Selatan. Tema UNGA 81 tahun ini sendiri adalah Restoring Trust, Managing Transformation: A United Nations that Delivers for All.
Menurut Shadiq, membangun pabrik vaksin tidak cukup hanya mendirikan gedung dan transfer teknologi. Agar bertahan, harus ada ekosistem yang lengkap.
Untuk itu Bio Farma mendorong pendekatan 4S + 1F, yakni Stronger Health Systems, Stronger Regulators, Stronger Procurement, Stronger Manufacturing, dan Financing.
“Tanpa demand yang berkelanjutan, fasilitas produksi baru tidak akan dapat bertahan. Karena itu, pembangunan manufaktur harus berjalan bersama dengan penguatan sistem kesehatan, regulator, pengadaan, dan pembiayaan,” kata Shadiq.
Bio Farma juga menekankan pembangunan rantai nilai atau value chain secara bertahap. Negara berkembang bisa memulai dari tahap packaging, lalu naik ke filling, formulasi, produksi bahan aktif, hingga penguasaan bibit vaksin. Dengan begitu, partisipasi negara-negara Global South di rantai nilai kesehatan global semakin kuat.
Salah satu bukti nyata adalah kerja sama Bio Farma dengan Institut Pasteur de Dakar (IPD) Senegal melalui mekanisme Reverse Linkage IsDB. Kolaborasi ini justru dimulai dari inisiatif Senegal.
“Kerja sama kami tidak dimulai dengan Bio Farma menawarkan sesuatu. Kerja sama ini dimulai ketika Institut Pasteur de Dakar datang ke Bandung, mengunjungi fasilitas produksi kami, dan menyampaikan apa yang perlu mereka pelajari,” ungkap Shadiq.
“Ketika mitra sendiri yang meminta bantuan, maka mitra juga memiliki rasa kepemilikan terhadap hasilnya,” lanjutnya.
Kemitraan itu ditandatangani pada September 2024 di Bali. Pada Februari 2026, tim Bio Farma terbang ke Dakar untuk berbagi pengalaman soal standar Good Manufacturing Practices, pengendalian mutu, proses persetujuan produk, hingga pengembangan SDM.
Berangkat dari pengalaman Senegal, Bio Farma kini mendorong Reverse Linkage 2.0, dari kerja sama bilateral menjadi program multinasional.
“Senegal hanyalah langkah awal. Kami telah berbagi teknologi polio dengan India. Kami juga sedang bekerja sama dengan Ghana dan mitra-mitra di Timur Tengah. Selain itu, kami sedang menjajaki peluang kerja sama dengan ASEAN, negara-negara anggota OIC, dan Amerika Latin,” ungkap Shadiq.
Bio Farma juga menyatakan kesiapan menjadi training hub dan menawarkan kapabilitasnya melalui Global Alliance for South-South and Triangular Cooperation yang difasilitasi UNOSSC.
Sebagai bagian dari ekosistem Danantara, langkah ini sejalan dengan peran Bio Farma sebagai industri strategis nasional yang tidak hanya membangun pabrik, tapi juga kompetensi manusia, regulasi, dan ekosistem industri yang berkelanjutan.
Di akhir forum, Shadiq menekankan pentingnya kepercayaan yang dibangun lewat aksi nyata.
“Kepercayaan tidak dibangun hanya melalui pernyataan. Kepercayaan dibangun melalui satu batch, satu pelatihan, dan satu kemitraan pada satu waktu. Bio Farma siap untuk terus membangun kepercayaan tersebut bersama IsDB, UNOSSC, dan seluruh mitra,” tutupnya.














