Bandung (BRS) – Industri kedirgantaraan nasional menghadapi tantangan yang tidak kalah penting dari pengembangan pesawat, yakni menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang benar-benar memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri. Persoalan itu coba dijawab PT Dirgantara Indonesia (PTDI) melalui Dirgantara Indonesia Training Center yang kini resmi beroperasi sebagai pusat pengembangan SDM kedirgantaraan.
Peresmian pusat pelatihan tersebut dilakukan Sabtu (29/8/2026), sekaligus menandai 50 tahun perjalanan PTDI. Kehadirannya diharapkan dapat mempersempit kesenjangan antara kompetensi tenaga kerja dan kebutuhan industri penerbangan maupun pertahanan.
Direktur Utama PTDI Gita Amperiawan mengatakan, selama ini perusahaan harus mengeluarkan biaya besar untuk memenuhi kebutuhan pelatihan dan sertifikasi SDM di luar negeri. Kondisi tersebut kemudian mendorong PTDI membangun kemampuan pelatihan di dalam negeri.
“Sekarang kebutuhan kualifikasi itu kami hadirkan di sini. Dari pengeluaran, kami ubah menjadi pemasukan,” kata Gita.
Sejak soft launching pada Januari 2026, lanjut Gita, pusat pelatihan tersebut telah menyelenggarakan 17 tipe pelatihan dengan total 140 peserta. Sebanyak 60 peserta di antaranya dikirim ke Korea Aerospace Industry (KAI) di Korea Selatan untuk memperdalam kompetensi teknis, seperti metal forming, machining, hingga heat treatment.
Penguatan kompetensi SDM menjadi semakin strategis karena PTDI tengah memperluas pengembangan produk dan pasarnya. Salah satunya melalui N219 yang mulai diarahkan masuk ke pasar penerbangan komersial.
Pesawat N219 merupakan hasil rancang bangun PTDI dengan melibatkan 16 industri dalam negeri dan enam perguruan tinggi. Pesawat tersebut memperoleh Type Certificate pada Desember 2020 dan memiliki TKDN sebesar 44,69 persen.
PTDI saat ini telah mengantongi kontrak efektif untuk empat unit N219 komersial. Salah satunya bersama PT Mitra Aviasi Perkasa (MAP), sedangkan tiga unit lainnya terkait kesepakatan dengan Bandara Internasional Bali Utara.
Untuk sektor pertahanan, terdapat 42 unit N219 dalam daftar pesanan, termasuk enam unit untuk TNI Angkatan Darat, tiga unit TNI Angkatan Laut, tiga unit Bakamla, serta 30 unit yang masih dalam proses penganggaran untuk Kementerian Pertahanan.
Pengembangan juga dilakukan terhadap N219 versi amfibi yang telah masuk Program Strategis Nasional (PSN). Pesawat ini diproyeksikan mendukung konektivitas wilayah kepulauan, termasuk untuk kebutuhan ambulans udara.
Kebutuhan SDM sesuai standar industri juga menjadi perhatian pemerintah. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyebut 63 persen perusahaan masih kesulitan mendapatkan tenaga kerja dengan keterampilan yang dibutuhkan.
“Skill, not school. Yang penting Anda bisa apa dan apa yang sudah pernah dilakukan,” ujar Yassierli.
Pemerintah menyiapkan Program Magang Nasional dengan kuota 150.000 peserta serta Pelatihan Vokasi Nasional bagi 300.000 orang pada 2026.
Bagi PTDI, langkah tersebut menunjukkan bahwa penguatan SDM harus berjalan beriringan dengan pertumbuhan industri. Sebab, pesawat dan teknologi canggih membutuhkan tenaga ahli yang memiliki kompetensi, sertifikasi, serta pengalaman sesuai standar dunia.













