Bio Farma Ajak Tenaga Kesehatan Lawan Mitos HPV Demi Cegah Kanker Serviks

Bandung (BRS) – Upaya menghapus kanker serviks di Indonesia tidak hanya bergantung pada vaksin, tetapi juga pada peran tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi yang benar kepada masyarakat. Hal itulah yang menjadi fokus PT Bio Farma (Persero) melalui webinar nasional bertajuk Closing the Gap on HPV: Clinical Strategies and Stigma-Free Counseling for HPV Elimination in Indonesia yang digelar secara daring, Sabtu (18/7).

Sekitar 500 dokter umum dan tenaga kesehatan dari berbagai daerah mengikuti kegiatan tersebut untuk memperdalam pemahaman mengenai infeksi Human Papillomavirus (HPV), manfaat vaksinasi, hingga cara memberikan edukasi tanpa stigma kepada masyarakat.

Webinar menghadirkan sejumlah pakar, mulai dari Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan RI dr. Indri Yogyaswari, Spesialis Obstetri dan Ginekologi dr. Tofan Widya Utami, Spesialis Dermatologi dan Venereologi dr. Wresti Indriatmi, hingga Spesialis Anak dr. Hartono Gunardi.

Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan RI, dr. Indri Yogyaswari, mengatakan pemerintah terus mempercepat pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Eliminasi Kanker Leher Rahim. Salah satu targetnya adalah mencapai cakupan imunisasi HPV sebesar 90 persen pada 2030.

“Capaian imunisasi HPV pada 2025 sudah mencapai 90,9 persen. Ke depan, vaksinasi akan diperluas secara bertahap kepada anak laki-laki, dimulai pada 2026 di DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Bali, kemudian berlanjut ke Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, hingga Jawa Timur,” ucap dr. Indri.

Namun, menurutnya, masih banyak tantangan yang harus dihadapi, terutama rendahnya literasi masyarakat mengenai HPV dan vaksinasi.

“Masih ada anggapan bahwa vaksin HPV bisa menyebabkan kemandulan. Informasi seperti ini harus diluruskan. Karena itu, tenaga kesehatan memiliki peran penting untuk memberikan edukasi yang benar dan berbasis ilmiah,” katanya.

Sementara itu, Spesialis Obstetri dan Ginekologi dr. Tofan Widya Utami menjelaskan bahwa kanker serviks masih menjadi ancaman serius bagi perempuan Indonesia. Bahkan, Indonesia masih mencatat angka kejadian kanker serviks tertinggi di Asia Tenggara.

“Setiap sekitar 25 menit ada satu perempuan Indonesia yang meninggal akibat kanker serviks. Padahal penyakit ini sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi HPV. Kini kita juga sudah memiliki vaksin produksi dalam negeri yang semakin memperkuat upaya pencegahan,” ujarnya.

Di sisi lain, Direktur Komersial Bio Farma, Fitri Puspadewi, mengatakan Bio Farma telah menghadirkan vaksin HPV Nusagard dan alat deteksi dini CerviScan sebagai dukungan terhadap program pemerintah.

“Vaksin HPV dapat melindungi perempuan maupun laki-laki dari tipe HPV yang berisiko menyebabkan berbagai penyakit, termasuk kanker serviks. Nusagard diproduksi sepenuhnya di Indonesia dan telah memperoleh sertifikat halal,” kata Fitri.

Selain vaksinasi, menurutnya, deteksi dini juga menjadi langkah penting agar infeksi HPV dapat diketahui lebih cepat. Karena itu, Bio Farma menghadirkan CerviScan sebagai pelengkap upaya pencegahan.

Melalui edukasi kepada tenaga kesehatan, penguatan produk kesehatan dalam negeri, serta kolaborasi dengan pemerintah, Bio Farma berharap semakin banyak masyarakat memperoleh informasi yang benar mengenai HPV. Dengan meningkatnya kesadaran untuk melakukan vaksinasi dan deteksi dini, target Indonesia menuju eliminasi kanker serviks pada 2030 diharapkan dapat tercapai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *