Bandung (BRS) – Transformasi digital menjadi langkah yang tidak bisa lagi ditunda bagi industri radio di Indonesia. Di tengah pesatnya pertumbuhan internet dan perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi, radio dituntut beradaptasi agar tetap relevan dan mampu bersaing di era media digital.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Sidang Paripurna Daerah (SPD) PRSSNI Jawa Barat 2026 yang digelar di Bandung, Kamis (18/6/2026). Forum tersebut menjadi ajang konsolidasi radio-radio anggota untuk memperkuat strategi transformasi menuju ekosistem radio digital yang lebih modern, terukur, dan berkelanjutan.
Ketua PD PRSSNI Jawa Barat, Joesoef Siregar, mengatakan industri radio saat ini tidak lagi bisa hanya mengandalkan siaran melalui frekuensi FM. Perubahan pola konsumsi media membuat radio harus hadir di berbagai platform digital agar tetap dekat dengan audiens.
Menurutnya, masa depan radio terletak pada kemampuan mengelola audiens, membangun komunitas, menghasilkan konten yang relevan, serta memanfaatkan data sebagai kekuatan baru industri.
“Radio tidak lagi cukup hanya menjual durasi siaran. Masa depan radio adalah bagaimana industri mampu mengelola audiens, membangun komunitas, menghasilkan konten yang relevan, dan menghadirkan data yang menjadi nilai tambah bagi brand maupun pemerintah,” ujar Joesoef.
Ia menjelaskan, PRSSNI Jawa Barat saat ini terus mendorong anggotanya untuk mengembangkan model Radio Ecosystem, yaitu integrasi antara radio terestrial, layanan streaming, website, media sosial, dan pemanfaatan data audiens dalam satu sistem yang saling terhubung.
Dalam model tersebut, radio tetap menjadi media yang memiliki kedekatan kuat dengan masyarakat. Namun kekuatan itu diperluas melalui platform digital yang memungkinkan interaksi berlangsung secara real time serta distribusi konten menjangkau audiens yang lebih luas.
“Perubahan perilaku audiens dan perkembangan teknologi mengharuskan industri radio bergerak dari pola kerja masing-masing menuju kolaborasi berbasis ekosistem,” katanya.
Penguatan data menjadi salah satu agenda utama transformasi yang sedang dijalankan. PRSSNI Jawa Barat mendorong pembangunan sistem pengukuran audiens berbasis digital melalui website, layanan streaming, analitik, hingga dashboard data kependengaran.
Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kepercayaan pengiklan sekaligus memperkuat posisi radio dalam persaingan industri media yang semakin kompetitif.
Sementara itu, Ketua Umum PRSSNI, Muhammad Rafiq, menyebut transformasi digital menjadi syarat utama bagi radio untuk bertahan di tengah disrupsi teknologi. Ia mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir jumlah anggota radio di bawah naungan PRSSNI terus berkurang akibat perubahan lanskap industri media.
Menurutnya, ledakan pengguna internet yang kini mencapai lebih dari 200 juta orang telah mengubah cara masyarakat mengakses informasi dan hiburan. Kondisi tersebut membuat radio harus menemukan pendekatan baru agar tetap memiliki nilai ekonomi.
“Yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi akhirnya tidak bisa bertahan. Karena itu transformasi digital bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan bagi industri radio,” kata Rafiq.
Meski demikian, ia optimistis radio masih memiliki peluang besar untuk berkembang. Salah satu modal utama yang dimiliki radio adalah kedekatan dengan komunitas serta kemampuan menghadirkan data audiens yang akurat.
Rafiq menilai langkah PRSSNI Jawa Barat dalam membangun sistem data audiens dapat menjadi model nasional. Data tersebut nantinya dapat digunakan untuk membuktikan efektivitas radio kepada pengiklan dan berbagai pemangku kepentingan.
Selain membangun basis data, PRSSNI juga tengah mengembangkan peluang bisnis baru melalui iklan audio digital berbasis streaming atau programmatic advertising. Skema ini diharapkan membuka sumber pendapatan baru bagi radio di tengah perubahan pola belanja iklan.
Melalui SPD 2026, PRSSNI Jawa Barat menegaskan komitmennya untuk menjadikan radio sebagai bagian penting dari ekosistem digital nasional. Dengan memadukan kekuatan siaran, teknologi, komunitas, dan data, radio diyakini tetap mampu menjadi media yang relevan sekaligus berdaya saing di masa depan.














