Bandung (BRS) – Tidak dipungkiri jumlah pengangguran terbuka di berbagai kota di Indoneaia terus meningkat tiap tahunnya, tak terkecuali di Kota Bandung. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Bandung per April 2026 tercatat sebesar 7,44%, dengan jumlah pengangguran mencapai sekitar 100.310 sampai 102.00 jiwa dengan mayoritas lulusan SMA/SMK. Sedangkan secara nasional, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) per Februari 2026, berada di angka 6,66%
Menyikapi hal tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus mengoptimalkan peran kursus dan pelatihan sebagai strategi utama dalam menekan angka pengangguran sekaligus menjawab kesenjangan antara pendidikan formal dan kebutuhan dunia kerja.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa lembaga kursus dan pelatihan memiliki posisi penting dalam menjembatani ketidaksesuaian (mismatch) antara lulusan pendidikan dan kebutuhan industri.
“Peran kursus dan pelatihan sangat penting, terutama untuk menjembatani ketidaksesuaian antara pendidikan formal dan kebutuhan lapangan pekerjaan,” kata Farhan di Bandung, Rabu (22/4/2026).
Menurutnya, fenomena mismatch tenaga kerja bukan hanya terjadi di Kota Bandung, tetapi juga menjadi tantangan di berbagai daerah di Indonesia. Oleh karena itu, penguatan lembaga kursus dan pelatihan menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang lebih adaptif dan kompetitif.

Pemkot Bandung pun mendorong kolaborasi lintas sektor melalui Dinas Pendidikan Kota Bandung dan Dinas Ketenagakerjaan Kota Bandung, dengan dukungan DPRD Kota Bandung. Kolaborasi ini difokuskan pada perluasan akses masyarakat terhadap program pelatihan berbasis keterampilan.
Program pelatihan tersebut menyasar angkatan kerja usia produktif agar memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini. Selain itu, pelatihan juga dirancang untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja lokal di tengah perubahan pasar kerja yang semakin dinamis.
Farhan mengungkapkan, tingkat pengangguran terbuka di Kota Bandung saat ini berada di angka 7,44 persen. Pemkot menargetkan penurunan angka tersebut melalui peningkatan kualitas tenaga kerja berbasis pelatihan yang terarah dan berkelanjutan.
“Lembaga kursus dan pelatihan harus terus berkembang seiring dengan perubahan teknologi dan kebutuhan keterampilan di dunia kerja. Adaptasi menjadi kunci agar tenaga kerja kita tetap relevan,” katanya.
Pemkot Bandung optimistis, dengan penguatan ekosistem pelatihan dan peningkatan kolaborasi, upaya menekan pengangguran dapat berjalan lebih efektif. Langkah ini juga diharapkan mampu menciptakan tenaga kerja yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu berinovasi dan berkontribusi dalam pembangunan ekonomi daerah.








