Bandung (BRS) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bandung terus menunjukkan ekspansi signifikan. Hingga awal Maret 2026, sedikitnya 250 dapur sehat atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah berdiri dan mulai menjangkau ribuan penerima manfaat di berbagai kecamatan.
Anggota Komisi IX DPR RI Asep Romy Romaya menilai kehadiran Badan Gizi Nasional (BGN) menjadi kunci dalam memastikan program strategis tersebut berjalan efektif dan tepat sasaran. Lembaga ini diharapkan mampu memperkuat koordinasi sekaligus mengintegrasikan berbagai program pemenuhan gizi di tingkat pusat hingga daerah.
Hal itu disampaikan Asep Romy saat sosialisasi program MBG yang digelar di Graha Arroma Bedas Center, Kabupaten Bandung, Kamis pekan lalu.
Kegiatan yang dimulai pukul 09.30 WIB tersebut dihadiri ratusan warga, tokoh masyarakat, serta Kepala KPPG Cirebon Yulian Septa Pratama.
Menurut Asep Romy, perkembangan program MBG di Kabupaten Bandung terbilang cepat. Penyebaran dapur sehat yang semakin luas membuat jangkauan penerima manfaat juga meningkat, terutama bagi kelompok rentan yang menjadi sasaran utama program.
“Per awal Maret 2026, di Kabupaten Bandung sudah berdiri kurang lebih 250 dapur sehat yang tersebar di beberapa kecamatan. Melalui program ini banyak manfaat yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” tegasnya.
Tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi, program ini juga mulai memunculkan efek ekonomi di tingkat lokal. Setiap dapur sehat melibatkan puluhan tenaga kerja dari masyarakat sekitar.
“Sekitar 47 orang petugas terlibat di setiap wilayah dapur. Artinya, selain meningkatkan kualitas gizi masyarakat, program ini juga membuka peluang kerja di daerah,” tambahnya.
Namun demikian, DPR RI menegaskan bahwa pengawasan terhadap pelaksanaan program tetap menjadi hal krusial. Komisi IX akan terus menjalankan fungsi kontrol untuk memastikan program berjalan sesuai aturan dan benar-benar menjangkau kelompok sasaran.
Asep Romy juga mendorong Badan Gizi Nasional untuk memperkuat sistem pengawasan dan tata kelola program di lapangan, sehingga distribusi makanan bergizi dapat berlangsung transparan, akuntabel, dan berkelanjutan.
Program MBG sendiri dirancang untuk menyasar kelompok prioritas yang membutuhkan dukungan gizi, mulai dari anak usia dini, siswa SD hingga SMP, santri di pesantren, hingga peserta didik di pendidikan khusus dan kejuruan. Selain itu, program ini juga menyasar balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Dengan jangkauan yang semakin luas, pemerintah berharap program ini tidak hanya mengatasi persoalan gizi, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.















