KUALITAS SDM DI JABAR HARUS MENINGKAT AGAR MAMPU IMBANGI PERKEMBANGAN TEKNOLOGI

Bandung (BRS) – Diketahui bahwasanya pendapatan per kapita warga Jawa Barat (Jabar) masih ada di bawah pendapatan per kapita secara nasional.

“Sampai saat ini pendapatan per kapita masyarakat Jabar masih di angka 3000 dollar AS, dan itu di bawah pendapatan per kapita Indonesia yang ada di angka 4000 dollar AS,” ungkap Guru Besar Ekonomi Pembangunan Universitas Padjadjaran (UNPAD) Arief Anshory Yusuf, di Gedung Sate Bandung, Jumat (28/7/2023),

“Padahal warga Jabar sangat banyak, ada 49 juta jiwa. Tapi mengapa pendapatannya masih di bawah nasional? Diantara jawabannya adalah karena kualitas sumber daya manusia (SDM) nya yang tidak dapat mengimbangi perkembangan teknologi,” jelas Arief.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur hingga investasi di Jabar belum sebanding dengan pengembangan kualitas SDM yang ada.

“Jika kualitas SDM nya rendah, ini otomatis tidak bisa berpacu dengan perkembangan teknologi, impian untuk menggapai Indonesia Emas di tahun 2045 akan sulit terwujud,” tegas Arief lagi.

Menurut Arief, kondisi ini tidak sebanding dengan pembangunan infrastruktur yang semakin pesat. Berbagai proyek, mulai dari kereta cepat, jalan tol, hingga bandara internasional berhasil dibangun.

Namun, tidak semua masyarakat bisa menikmati kemajuan ini karena masih berkutat dengan masalah ekonomi.

Salah satu permasalahan yang perlu jadi perhatian, lanjut Arief, adalah kualitas sumber daya manusia yang bisa menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi. Di tengah era kecerdasan buatan, masyarakat Indonesia harus menjadi pengguna, bahkan menguasai teknologi tersebut.

Adaptasi dari kecerdasan buatan ini, ujar Arief, membutuhkan penguatan di sektor pendidikan. Namun, tidak semua warga Jabar mengenyam pendidikan tinggi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar, rata-rata lama sekolah warga di provinsi ini pada tahun 2022 hanya 9,07 tahun untuk laki-laki dan 8,48 tahun untuk perempuan.

Arief menyebut, Indonesia akan kesulitan menggapai target Indonesia Emas 2045 jika terus terjebak dalam situasi ini.

“Kesulitan ini bisa diantisipasi jika investasi yang masuk bisa dinikmati oleh warga Jabar secara merata,” kata Arief.

“Caranya dengan meningkatkan kualitas pendidikan warga Jabar. Orang-orang yang pandai memanfaatkan teknologi akan lebih bagus dan produktif. Bahkan, mereka bisa menjadi pengusaha dan membuka lapangan kerja hingga meningkatkan konsumsi,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Jabar Iendra Sofyan juga menyebut permasalahan SDM menjadi hal yang menjadi tantangan bagi pembangunan Jabar.

“Rata-rata lama sekolah yang kecil menunjukkan tingkat pendidikan di Jabar masih banyak persoalan,” kata Iendra.

Bahkan, lanjut Iendra, tidak hanya rata-rata lama pendidikan, harapan pendidikan juga perlu menjadi perhatian.

Saat ini, lanjut Iendra, rata-rata harapan lama sekolah masih 12 tahun. Artinya, banyak yang kehilangan harapan untuk melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi karena hanya bisa membayangkan pendidikan sampai tingkat SMA.

“Masih banyak pekerjaan rumah dari sisi human capital (SDM). Selain dari tingkat pendidikan, kepintaran emosional masyarakat juga menjadi pekerjaan rumah karena dampak digitalisasi,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *