MajalahKartini.co.id – Banyak perempuan yang harus bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri maupun keluarganya. Berbagai macam alasan harus diterima perempuan mulai dari yang terbaik hingga terburuk di tempat kerja. Namun tidak banyak tempat kerja yang mau menerima perempuan usia tua untuk bekerja.
Dilansir dari Los Angeles Times, menurut survei AARP (American Association of Retired Person) pada tahun 2012 menemukan bahwa 64% pekerja mengatakan bahwa mereka telah mengalami diskriminasi usia. Dilihat dari contoh diskriminasi usia di tempat kerja dan sebuah penelitian baru-baru ini menemukan bahwa perempuan dengan kategori usia 40 hingga 50an tahun lebih memiliki peluang kerja tinggi.
Apabila mereka mengalami penggangguran usia dini, maka akan mengalami pengangguran yang lebih lama daripada bekerja. Perbedaan kalangan usia bekerja bisa dikatakan sebagai diskriminasi. Namun pada tahun 60-70an, para pekerja tidak diharuskan untuk berkompetisi dengan generasi di bawahnya karena pada tahun tersebut perusahaan lebih membutuhkan pekerja yang memiliki keterampilan baik dan tinggi. Jika sudah memenuhi syarat dan kriteria dalam bekerja, perusahaan berani untuk membayar mahal karya dan hasil kerja seseorang selaku pekerjanya.
Keadaan pekerja berubah sejak pergantian era milenium dengan kategori pekerja milenial dimana para pekerja dianggap sebagai bisnis dan dirinya bisa menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri dibanding menawarkan kemampuan diri untuk menawarkan solusi sementara.
Secara teori, seharusnya usia tidak berpengaruh besar apabila atasan mencari pekerja dengan kategori individualitas dan fleksibilitas. Karena pada umumnya pekerja dengan pengalaman dan usia yang tua lebih mapan dan berpengalaman dalam bekerja.
Namun pekerja yang berusia lebih muda antara 20 hingga 55 tahun dan hanya bisa dipekerjakan selama dua sampai lima tahun membuat masa kerjanya menjadi semakin pendek dan tidak fokus hanya dengan satu pekerjaan saja. Tanpa ikatan dan aturan, dirinya akan berusaha untuk mencapai apa yang diinginkannya tanpa memperdulikan dampaknya.
“Fokus terhadap kualitas yang tidak terlukiskan seperti ‘energi,’ memberikan para pekerja keleluasaan memuaskan diri untuk tidak mengucapkan bias dan prasangka,” ucap profesor antropologi di Indiana University Ilana Gershon. (Felita Herlina Ciciliani/Foto: The Balance).













