Bandung (BRS) – Wali Kota Bandung Muhammad Farhan berharap sektor ritel tidak hanya menjadi penggerak aktivitas ekonomi, tetapi juga berkontribusi lebih besar dalam mengurangi kemiskinan melalui penciptaan lapangan kerja dan pengembangan peluang usaha bagi masyarakat.
Menurut Farhan, sektor ritel memiliki potensi besar untuk mendukung upaya pengentasan kemiskinan di Kota Bandung. Terlebih, penciptaan lapangan kerja dan kesempatan berusaha masih menjadi salah satu aspek yang perlu diperkuat dalam strategi penanganan kemiskinan.
Hal tersebut disampaikan Farhan saat menghadiri National Kick-Off Hari Ritel Nasional (HRN) 2026 di Amanda Supermarket, Cihampelas Walk, Bandung, Senin (2/11/2026).
Farhan mengungkapkan, dari tiga strategi penanganan kemiskinan yang dijalankan di Kota Bandung, kontribusi penciptaan lapangan pekerjaan dan lapangan usaha masih relatif kecil, yakni sekitar lima persen.
“Dari tiga strategi penanganan kemiskinan di Kota Bandung, yang paling lemah justru adalah kesempatan pekerjaan. Porsi untuk pengentasan kemiskinan dengan menciptakan lapangan pekerjaan dan lapangan usaha kontribusinya hanya lima persen,” ucap Farhan.
Ia menjelaskan, peran sektor ritel semakin relevan seiring perubahan struktur ekonomi Kota Bandung. Jika pada periode 1970-an hingga 1990-an industri menjadi salah satu motor utama perekonomian, kini sektor pariwisata turut berkembang menjadi penggerak ekonomi sekaligus penyedia lapangan kerja.
Dalam perkembangannya, pariwisata memiliki keterkaitan erat dengan perdagangan dan ritel. Aktivitas wisatawan tidak hanya mendorong kunjungan ke berbagai destinasi, tetapi juga berpotensi meningkatkan transaksi belanja dan menggerakkan investasi.
Atas dasar itu, Pemkot Bandung mengembangkan strategi Tourism, Trade, and Investment (TTI) untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kunjungan wisatawan, aktivitas perdagangan, serta masuknya investasi.
“Ketika transaksi dikalikan dengan jumlah wisatawan yang hadir, diharapkan akan mengundang investasi yang datang. Inilah tiga kunci strategi kami dalam memanfaatkan berbagai sektor ekonomi penggerak agar menyelesaikan berbagai masalah sosial,” jelasnya.
Farhan menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Kota Bandung pada semester pertama 2026 mencapai 5,8 persen. Meski menunjukkan perkembangan positif, angka tersebut masih berada di bawah pertumbuhan ekonomi pada 2019 yang mencapai 7,2 persen, sebelum pandemi Covid-19.
Karena itu, menurut Farhan, tantangan pembangunan ekonomi tidak berhenti pada upaya meningkatkan angka pertumbuhan. Pemerintah juga perlu memastikan hasil pertumbuhan tersebut dapat dirasakan secara lebih merata oleh masyarakat.
“Pekerjaan besar kita bukan hanya meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi, tetapi juga meningkatkan kualitas pertumbuhan tersebut sehingga bisa dinikmati secara merata,” katanya.
Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai ritel modern memiliki peran penting dalam memperluas akses pasar bagi produk-produk lokal. Saat ini, hampir 80 persen produk lokal disebut telah masuk ke jaringan ritel modern.
Menurut Budi, produk lokal yang mampu memenuhi standar kualitas memiliki peluang lebih besar untuk dipasarkan melalui jaringan ritel sehingga dapat menjangkau konsumen secara lebih luas.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha dalam memperkuat usaha kecil dan menengah. Dukungan tersebut dapat dilakukan melalui program kurasi dan fasilitasi agar produk UMKM semakin kompetitif, termasuk memiliki peluang menembus pasar ekspor.
Momentum Hari Ritel Nasional 2026 diharapkan semakin memperkuat peran sektor ritel dalam menggerakkan perekonomian nasional maupun daerah, sekaligus memperluas kesempatan usaha dan penyerapan tenaga kerja.








