Geliat Pasar dan Supermarket Sambut Ramadan, Suasana Kota Bandung Makin “Hiruk Pikuk”

Foto : Ilustrasi

 

Bandung (BRS) – Meski bulan suci Ramadan masih menyisakan beberapa minggu lagi, aura kemeriahan sudah mulai terasa kental di sudut-sudut Kota Bandung.

Berdasarkan pantauan di lapangan pada awal Februari 2026 ini, sejumlah pusat perbelanjaan, toko ritel modern, hingga pasar tradisional, mulai mengubah wajah gerainya dengan ornamen dan pajangan khas Ramadan.

​Pemandangan mencolok terlihat di berbagai supermarket besar seperti Yogya Group, Borma, hingga Hypermart. Begitu melangkahi area supermarket, pengunjung langsung disambut oleh instalasi kreatif berupa tumpukan kaleng biskuit dan susunan botol sirup aneka warna.

Stok sirup berbagai merek, yang seolah menjadi ikon wajib buka puasa, telah memenuhi rak-rak utama dengan promo harga menarik.

​Tak hanya sirup, produk kurma berbagai kemasan juga mulai terlihat memenuhi lorong-lorong supermarket, walau belum terlalu signifikan.

Seorang manajer operasional ritel yang ditemui Redaksi BRS, menyebutkan bahwa pasokan pangan tahan lama seperti biskuit kaleng, sirup, paket-paket sembako dan parsel, sudah ditambah jumlahnya hingga 20% sampai 40% dari hari biasanya untuk mengantisipasi tradisi munggahan.

“Jumlah kebutuhan makanan dan minuman pelengkap Ramadan ini kami tingkatkan antara 20 – 40 persen. Jumlah itu bisa bertambah di kemudian hari menyesuaikan flownya,” ucapnya.

​Beralih ke sektor sandang, pantauan di Pasar Baru Trade Center dan Pasar Kosambi, juga mulai menunjukkan peningkatan aktivitas.

Kios-kios yang menjajakan busana muslim sudah mulai dipadati konsumen, yang sepertinya ingin “mencuri start” belanja sebelum harga melonjak di pertengahan Ramadan.

​Baju koko dengan bahan linen atau katun premium, tetap menjadi primadona, disandingkan dengan berbagai koleksi mukena dengan berbagaj sulaman bordir. Tidak ketinggalan, perlengkapan pelengkap seperti peci, sorban, dan tasbih juga mulai dipajang.

​”Tahun ini sepertinya tren warna earth tone seperti warna cokelat, krem, beige, terakota, hijau olive, abu-abu, dan taupe masih menjadi favorit untuk baju koko ataupun mukena. Karena warna-warna itu seperti memberikan suasana nyaman dan elegan,” ucap salah seorang penjual busana di Pasar Kosambi Kota Bandung.

​Selain pusat perbelanjaan modern, pasar tradisional seperti Pasar Kosambi dan Pasar Cicadas juga tak mau kalah. Lapak-lapak dadakan yang menjual peralatan ibadah dan bahan pangan musiman mulai terlihat.

Umumnya fenomena ini erat kaitannya dengan tradisi munggahan, momen berkumpul bersama keluarga sebelum memasuki bulan Ramadan.

​Meskipun terdapat kekhawatiran mengenai fluktuasi harga bahan pokok, Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) terus memantau ketersediaan stok di lapangan.

Sejauh ini, ketersediaan barang-barang kebutuhan Ramadan seperti tepung, gula, dan minyak goreng terpantau masih aman dan mencukupi.
​Geliat ekonomi ini menjadi sinyal positif bagi pelaku usaha di Kota Bandung.

Transformasi visual toko-toko yang kini bernuansa hijau dan emas tidak hanya sekadar strategi pemasaran, tetapi juga mencerminkan semangat religiusitas dan suka cita warga Bandung dalam menyambut bulan penuh berkah.

​Bagi warga yang ingin menghindari kerumunan, saat ini adalah waktu yang tepat untuk mulai mencicil kebutuhan Ramadan, mengingat puncak kepadatan biasanya terjadi sepekan sebelum memasuki hari pertama puasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *