WJES 2026 Perkuat Sinergi Riset dan Kebijakan, Investasi Jabar Didorong Berdampak ke Tenaga Kerja Lokal

Bandung (BRS) – Besarnya investasi yang masuk ke Jawa Barat perlu diikuti peningkatan penyerapan tenaga kerja lokal. Kesesuaian kompetensi sumber daya manusia dengan kebutuhan industri menjadi salah satu pekerjaan penting agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya tercermin dari peningkatan investasi, tetapi juga membuka lebih banyak kesempatan kerja bagi masyarakat.

Persoalan tersebut menjadi salah satu fokus dalam Seminar Nasional West Java Economic Society (WJES) 2026 yang digelar di Bale Pasundan, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Selasa (3/11/2026). Seminar ini menjadi puncak rangkaian WJES 2026 sekaligus momentum penyampaian rekomendasi kebijakan hasil kajian kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Junanto Herdiawan, mengatakan WJES merupakan forum kolaborasi antara Bank Indonesia, Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), pemerintah, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan untuk menghasilkan gagasan serta rekomendasi kebijakan bagi pembangunan ekonomi daerah.

Sejak dibentuk pada 2020, WJES telah menjadi ruang pertukaran pemikiran yang turut memberikan masukan bagi kebijakan ekonomi Jawa Barat. Junanto mengapresiasi pemerintah provinsi yang selama ini telah memanfaatkan sebagian besar rekomendasi yang dihasilkan melalui forum tersebut.

“Sejak dibentuknya dari 2020, kami mengapresiasi Pemprov Jawa Barat yang menggunakan sebagian besar rekomendasi-rekomendasi itu dalam kebijakan-kebijakan ekonominya. Sehingga kita lihat sekarang Pemprov Jawa Barat bisa tumbuh dengan baik, lebih tinggi dari nasional, inflasinya juga lebih rendah dari nasional,” kata Junanto.

Pada penyelenggaraan tahun ini, WJES secara khusus memberikan perhatian pada keterkaitan investasi dengan penyerapan tenaga kerja. Menurut Junanto, isu tersebut penting mengingat industri pengolahan menjadi salah satu sektor dengan kontribusi besar terhadap perekonomian Jawa Barat.

Kontribusi sektor industri pengolahan terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Jawa Barat telah mencapai lebih dari 25 persen. Besarnya peran investasi di sektor tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan tenaga kerja lokal memenuhi kebutuhan industri.

“Bagaimana agar investasi ini bisa bermanfaat juga bagi masyarakat di Jawa Barat? Salah satunya adalah mengaitkan antara investasi tadi dengan penyerapan tenaga kerjanya,” ujarnya.

Karena itu, penguatan pendidikan vokasi menjadi salah satu perhatian dalam pembahasan WJES 2026. Junanto menyebut peningkatan kualitas SMK, Balai Latihan Kerja (BLK), serta Pusat Pengembangan Vokasi (PPV) perlu dilakukan agar kompetensi lulusan semakin sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Dengan keterhubungan yang lebih baik antara dunia pendidikan dan industri, investasi diharapkan mampu menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan sekaligus mengurangi pengangguran.

“Jadi bukan hanya ekonominya bertambah, penyerapan tenaga kerja juga bertambah, penganggurannya berkurang, pertumbuhan ekonominya lebih baik,” tutur Junanto.

Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, yang hadir dalam seminar tersebut juga menekankan pentingnya tindak lanjut atas rekomendasi yang dihasilkan WJES. Menurutnya, hasil penelitian yang telah dirangkum dalam buku rekomendasi harus menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pemerintah provinsi maupun kabupaten dan kota.

Ia berharap rekomendasi tersebut segera dipelajari sehingga berbagai gagasan yang dihasilkan para peneliti dapat diterapkan untuk mendukung pembangunan ekonomi daerah.

“Saya berharap rekomendasi dari WJES ini tidak hanya sekadar pajangan saja yang begitu cukup tebal ini, segera dibaca, dipelajari, dan diimplementasikan di kota/kabupaten dan juga tentunya di Provinsi Jawa Barat menuju pertumbuhan ekonomi yang lebih baik lagi,” ucap Erwan.

Erwan menilai kesinambungan penyelenggaraan WJES sejak 2020 menjadi nilai penting karena pemerintah daerah secara rutin memperoleh masukan dari kalangan akademisi dan peneliti. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia dan seluruh pihak yang terus mendukung kegiatan tersebut.

Sementara itu, Ketua ISEI Cabang Bandung Koordinator Jawa Barat, Prof. Martha Fani Cahyandito, menjelaskan bahwa kekuatan WJES terletak pada proses kolaborasi dalam menghasilkan rekomendasi. Keterlibatan pemerintah daerah semakin intensif, terutama dalam proses seleksi, pendampingan, dan penyelarasan hasil penelitian dengan kebutuhan kebijakan publik.

Menurut Fani, kajian yang dihasilkan tidak hanya berasal dari Jawa Barat, tetapi juga menghimpun pemikiran peneliti dari berbagai daerah di Indonesia.

Ia juga menyoroti persoalan kesenjangan pembangunan antara wilayah utara dan selatan Jawa Barat. Penguatan rantai pasok, konektivitas, teknologi, dan kapasitas sumber daya manusia diperlukan agar potensi ekonomi kedua kawasan dapat saling terhubung.

“Yang kita temukan adalah peningkatan kapasitas SDM-nya. Hari ini kita masuk ke peningkatan kapasitas SDM,” kata Fani.

Dalam rangkaian WJES 2026, agenda Call for Recommendative Papers (CFRP) berhasil menghimpun 269 usulan abstrak kajian dari berbagai wilayah di Indonesia. Setelah melalui proses seleksi, terkumpul 24 full paper yang kemudian dikurasi hingga menghasilkan delapan paper terbaik.

Penyusunan rekomendasi juga melibatkan 16 organisasi perangkat daerah (OPD) di Jawa Barat melalui diskusi dan konsultasi intensif. Keterlibatan tersebut dilakukan untuk memastikan substansi kajian sejalan dengan persoalan dan prioritas pembangunan daerah.

Pada seminar nasional, tiga paper terbaik dipresentasikan. Juara pertama diraih Immanuel Nicholas Fransepta Samosir, Dyah Widyastuti, dan Dhevri Leonardo Hutajulu melalui kajian berjudul Di Ambang Transisi Digital: Efek Threshold Pembiayaan Syariah terhadap UMKM Jawa Barat.

Juara kedua diraih Sulaeman, Atina Ma’rifah, dan Tika Nur’atikah melalui kajian Indeks Ketahanan Investasi Daerah (IKID) Jawa Barat: Analisis Empiris dan Strategi Kebijakan dalam Mendukung Transformasi Ekonomi yang Inklusif dan Berdaya Saing.

Adapun juara ketiga diraih Diantika Ardila Shanti dan Fadilatul Hilmiyah melalui kajian Transforming Connectivity into Prosperity: Digitalisasi, Inklusi Keuangan, dan Pengentasan Kemiskinan di Jawa Barat.

Seluruh hasil kajian tersebut kemudian dihimpun dalam Buku Rekomendasi Kebijakan Hasil CFRP WJES 2026 yang diluncurkan pada seminar nasional. Buku tersebut memuat 24 full paper sebagai referensi bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan ekonomi.

Selain diseminasi hasil penelitian, seminar nasional juga menghadirkan diskusi panel bertajuk Link and Match Dunia Pendidikan dan Industri dalam Mengatasi Kesenjangan Kompetensi Tenaga Kerja. Diskusi menghadirkan perwakilan pemerintah, pendidikan vokasi, dan praktisi industri untuk membahas penyelarasan kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja.

Pembahasan mencakup penguatan kurikulum, program pemagangan, dan sertifikasi kompetensi agar tenaga kerja memiliki keterampilan yang sesuai dengan perkembangan industri, termasuk menghadapi perubahan teknologi dan kecerdasan artifisial.

Sebelum mencapai puncaknya melalui seminar nasional, WJES 2026 telah diawali dengan Kick Off pada 27 April 2026 dan dilanjutkan melalui sarasehan di Cirebon, Tasikmalaya, serta Bandung. Delapan tema strategis menjadi perhatian, meliputi ekonomi hijau dan sirkular, ekonomi syariah, transformasi digital dan inklusi keuangan, rantai pasok dan ketahanan pangan, investasi dan infrastruktur strategis, pemerataan pembangunan dan ketahanan sosial, transformasi ekosistem UMKM, serta ketenagakerjaan dan daya saing industri di era kecerdasan artifisial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed