Bandung Makin Ramai, Aktivitas Pelanggan Kereta Api Naik 12,26 Persen

Bandung (BRS) – Aktivitas perjalanan menggunakan kereta api menuju Kota Bandung terus meningkat. PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat 2.606.290 aktivitas naik dan turun pelanggan kereta api jarak jauh dan lokal di Stasiun Bandung selama Januari–September 2026. Jumlah tersebut meningkat 12,26 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025, yakni 2.321.687 aktivitas.

Kenaikan ini menunjukkan tingginya mobilitas masyarakat menuju Bandung untuk beragam keperluan, mulai dari bekerja, menempuh pendidikan, menjalankan usaha, hingga menikmati kegiatan wisata dan ekonomi kreatif.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, Bandung memiliki karakter kota yang mendorong pergerakan masyarakat sepanjang tahun. Aktivitas bisnis, pendidikan, budaya, dan pariwisata menjadi sejumlah faktor yang membentuk kebutuhan perjalanan menuju kota tersebut.

“Karakter perjalanan menuju Bandung sangat beragam. Ada masyarakat yang datang untuk bekerja, kuliah, menjalankan usaha, berwisata, menghadiri konser, pameran, konferensi, hingga berbagai kegiatan kreatif. Setiap kebutuhan memiliki pola perjalanan yang berbeda,” ucap Anne di Bandung, Rabu (14/10/2026).

Selain kereta api jarak jauh dan lokal, mobilitas menuju kawasan Bandung juga didukung layanan kereta cepat Whoosh. Sepanjang Januari–September 2026, Whoosh melayani 4.576.841 pelanggan, meningkat 1,16 persen dibandingkan 4.524.311 pelanggan pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Jumlah pelanggan Whoosh tertinggi selama periode tersebut tercatat pada Juli 2026, sebanyak 578.562 pelanggan, disusul Agustus dengan 560.772 pelanggan.

Menurut Anne, keberadaan beragam layanan transportasi berbasis rel memberikan lebih banyak pilihan bagi masyarakat untuk menjangkau Kota Bandung dan kota-kota lainnya sesuai kebutuhan perjalanan masing-masing.

“Bandung, Pekalongan, Solo, dan Malang misalnya, kota-kota itu memiliki karakter yang berbeda. Aktivitas kreatif, pendidikan, bisnis, budaya, dan pariwisata membuat pergerakan masyarakat menuju kota-kota tersebut berlangsung sepanjang tahun. Kereta api menjadi salah satu pilihan perjalanan untuk menjangkau berbagai aktivitas itu,” katanya.

Daya tarik Bandung juga berkaitan dengan perkembangan sektor ekonomi kreatif. Kota ini menjadi bagian dari UNESCO Creative Cities Network sejak 2015 dalam bidang desain. Ekosistem kreatifnya berkembang melalui berbagai subsektor, seperti fesyen, arsitektur, desain grafis, produk kreatif, hingga media digital.

Berbagai kegiatan di bidang kreatif, pameran, konferensi, dan hiburan turut menjadi bagian dari aktivitas yang mendorong masyarakat bepergian ke Bandung. Meski demikian, KAI mengingatkan bahwa data aktivitas pelanggan transportasi mencakup beragam tujuan dan tidak seluruhnya dapat dikategorikan sebagai perjalanan wisata maupun kegiatan ekonomi kreatif.

Peningkatan aktivitas pelanggan juga tercatat di sejumlah kota lain. Di Surakarta, Stasiun Solo Balapan melayani 2.538.838 aktivitas naik dan turun pelanggan kereta api jarak jauh dan lokal selama Januari–September 2026. Jumlah tersebut meningkat 11,60 persen dibandingkan 2.274.844 aktivitas pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Mobilitas di kawasan Solo turut didukung Commuter Line Area VI Yogyakarta pada koridor Yogyakarta–Palur. Layanan tersebut mencatat sekitar 7,16 juta pelanggan selama sembilan bulan pertama 2026, naik 7,68 persen dibandingkan sekitar 6,65 juta pelanggan pada periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, Stasiun Malang mencatat 1.659.561 aktivitas naik dan turun pelanggan, meningkat 3,25 persen dibandingkan 1.607.297 aktivitas pada Januari–September 2025. Adapun Stasiun Pekalongan melayani 1.050.509 aktivitas pelanggan, tumbuh 3,72 persen dibandingkan 1.012.784 aktivitas pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Tingginya mobilitas masyarakat tersebut berlangsung di tengah aktivitas pariwisata nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perjalanan wisatawan nusantara mencapai 104,30 juta perjalanan pada Agustus 2026. Pada bulan yang sama, kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia mencapai 1,60 juta kunjungan.

Anne mengatakan, data aktivitas pelanggan di stasiun, Whoosh, dan Commuter Line mencakup berbagai kepentingan perjalanan sehingga tidak dapat seluruhnya dikaitkan dengan pariwisata.

“Setiap kota punya alasan yang membuat orang datang. Ada yang mencari pengalaman budaya, menghadiri acara, menjalankan bisnis, belajar, menikmati kuliner, atau mengunjungi keluarga. Mobilitas seperti inilah yang ikut menjaga kota tetap hidup dan terus bergerak,” tutup Anne.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *