Bekasi (BRS) – Perjalanan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk naik kelas tidak berhenti ketika produk mampu dipasarkan di dalam negeri. Tantangan berikutnya adalah menjaga kualitas, memenuhi standar pasar global, sekaligus membangun akses agar produk lokal benar-benar diterima konsumen mancanegara.
Hal itu dibuktikan PT Oishii Food Indonesia yang resmi melepas ekspor perdana Kecap Oishii ke Belanda, Senin (24/8/2026). Sebanyak satu kontainer berisi 2.900 boks atau setara 26.880 botol dikirim ke negara tersebut dengan nilai penjualan mencapai USD51.550 atau sekitar Rp900 juta.
Ekspor perdana ini menjadi salah satu tonggak penting perjalanan perusahaan yang sebelumnya menggunakan nama CV Ikapeksi Agro Industri. Perubahan status menjadi PT Oishii Food Indonesia sekaligus menandai langkah perusahaan memperkuat kapasitas usaha dan memperluas pasar.
Pemilik PT Oishii Food Indonesia, Nurjannah Dongoran, mengatakan keberhasilan menembus pasar Belanda tidak terjadi secara instan. Ada proses panjang yang melibatkan penguatan kapasitas usaha, pembukaan akses pasar, pemenuhan standar produk hingga pendampingan ekspor.
“Keberhasilan kami ini bukan hasil kerja kami sendiri, tetapi berkat dukungan dari berbagai lembaga. Kami merasakan betul bagaimana pemerintah hadir melalui capacity building, pembukaan akses pasar, hingga asistensi sertifikasi dan kepabeanan,” kata Nurjannah.
Menurutnya, dukungan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam perjalanan PT Oishii Food Indonesia dari usaha yang tumbuh di dalam negeri hingga mampu mengirim produk ke pasar internasional.
Salah satu pintu masuknya adalah program business matching Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2025. Melalui program tersebut, PT Oishii Food Indonesia dipertemukan dengan InterAromat, buyer asal Belanda. Pertemuan itu kemudian berkembang menjadi kesepakatan bisnis yang kini diwujudkan melalui ekspor perdana.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Junanto Herdiawan, mengatakan keberhasilan UMKM menembus pasar ekspor membutuhkan proses yang berkesinambungan. Tidak cukup hanya memiliki produk yang bagus, pelaku usaha juga perlu memperkuat kapasitas sekaligus membangun jaringan pasar.
“Keberhasilan ekspor UMKM membutuhkan tahapan yang berkesinambungan, dari penguatan kapasitas, perluasan akses pasar, serta sinergi seluruh pemangku kepentingan untuk mempertemukan produk unggulan dengan pasar yang tepat,” ujar Junanto.
Dalam perjalanan pengembangan Oishii Food, berbagai fasilitasi diberikan untuk memperkuat promosi, branding, kapasitas dan akses pasar. Di antaranya melalui Rolling Exhibition Osaka Export, Karya Kreatif Jawa Barat (KKJ), KKI, hingga business matching yang mempertemukan perusahaan dengan calon pembeli dari luar negeri.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa proses UMKM naik kelas tidak bisa dilakukan sendiri. Pelaku usaha membutuhkan ekosistem yang mempertemukan produk, pembinaan, pembiayaan, standardisasi, promosi dan akses pasar.
Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM RI, Bagus Rachman, mengatakan pemerintah akan terus memperkuat sinergi untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing UMKM.
“Kementerian UMKM RI memiliki berbagai program untuk mendorong para pelaku UMKM agar terus naik kelas. Ke depan, sinergi dan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia, akan terus diperkuat untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing UMKM,” katanya.
Sedangkan Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan juga mengapresiasi keberhasilan Oishii Food menembus pasar Belanda. Menurutnya, capaian tersebut diharapkan menjadi pemicu bagi semakin banyak UMKM Jawa Barat untuk berani memperluas pasar hingga mancanegara.
“Terima kasih kepada seluruh pihak, secara khusus kepada Bank Indonesia, yang secara konsisten membina dan mendorong UMKM di Jawa Barat untuk terus berkembang. Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan terus memberikan dukungan agar UMKM semakin besar dan berdaya saing,” ujar Erwan.
Bagi PT Oishii Food Indonesia, ekspor ke Belanda bukan merupakan pengalaman pertama memasuki pasar luar negeri. Perusahaan yang mulai berjalan pada 2017 itu mulai mendapatkan peluang ekspor pada 2020. Pada akhir 2022, produknya berhasil dikirim ke Arab Saudi dan hingga kini telah mencapai enam kontainer.
Namun, Nurjannah menilai perjalanan UMKM tidak boleh berhenti setelah ekspor pertama terealisasi. Justru setelah memasuki pasar internasional, tantangan baru muncul, mulai dari menjaga konsistensi kualitas dan pasokan hingga meningkatkan kapasitas produksi.
“Jangan berpikir ketika sudah ekspor, UKM tidak perlu dibina lagi. Justru kami butuh dukungan lebih besar agar mesin-mesin kami terus bergerak, karyawan kami terus bekerja, dan ekonomi terus berputar,” tuturnya.
Karena itu, ekspor perdana ke Belanda diharapkan tidak berhenti sebagai transaksi satu kali. Perusahaan menargetkan adanya repeat order, peningkatan kapasitas produksi, serta pembukaan akses ke negara lain.
Bagi Jawa Barat, keberhasilan tersebut menjadi gambaran bahwa UMKM memiliki peluang besar menjadi bagian dari rantai perdagangan global jika didukung ekosistem yang tepat. Produk yang lahir dari daerah tidak hanya dituntut mampu bersaing dari sisi rasa dan harga, tetapi juga harus memenuhi standar, memiliki branding kuat dan konsisten menjaga kualitas.
Bank Indonesia Jawa Barat pun terus mendorong pengembangan UMKM melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, kementerian, asosiasi, pelaku usaha dan mitra strategis. Semangat Karya Kreatif Indonesia 2026, “BeudayaMeusareSare”, menjadi bagian dari upaya memperkuat UMKM agar semakin siap menghadapi pasar yang lebih luas.
Ekspor Kecap Oishii ke Belanda akhirnya bukan sekadar pengiriman 26.880 botol. Lebih dari itu, capaian tersebut menunjukkan bahwa proses UMKM naik kelas dapat menghasilkan dampak nyata ketika pembinaan berujung pada akses pasar dan transaksi.
Dari Bekasi, produk pangan olahan karya pelaku usaha lokal kini menembus pasar Eropa. Langkah tersebut sekaligus membuka peluang baru bahwa semakin banyak produk UMKM Jawa Barat dapat mengikuti jejak yang sama: tumbuh di daerah, naik kelas, lalu bersaing di pasar dunia.













