Jakarta (BRS) – PT Kereta Api Indonesia (Persero) menegaskan bahwa konektivitas transportasi merupakan fondasi utama pembangunan wilayah yang inklusif dan berkelanjutan. Dalam sistem perkeretaapian nasional, konektivitas lahir dari keselarasan peran antara pemerintah sebagai penyedia prasarana dan KAI sebagai operator layanan.
Sinergi ini memungkinkan kereta api menghubungkan pusat-pusat aktivitas ekonomi dan sosial secara efektif, sekaligus memperkuat posisi Stasiun Sukabumi sebagai simpul strategis regional.
Sebagai operator transportasi publik nasional, KAI berkomitmen menghadirkan layanan kereta api yang andal, aman, dan berkelanjutan. Di sisi lain, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan memastikan kesiapan prasarana agar operasional berjalan optimal dan terintegrasi dalam satu sistem nasional.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba dalam siaran pers KAI, Jumat (23/1/2026), menyampaikan bahwa keselarasan peran tersebut membentuk ekosistem transportasi yang mampu mendorong pertumbuhan wilayah secara terarah dan terukur.
“Kereta api tidak berdiri sendiri. Pemerintah memastikan prasarana siap, sementara KAI fokus pada keandalan operasional dan kualitas layanan. Sinergi inilah yang membuat konektivitas memberi dampak ekonomi dan sosial yang berkelanjutan bagi daerah,” kata Anne.
Dalam konteks tersebut, Stasiun Sukabumi memainkan peran penting sebagai simpul mobilitas yang menghubungkan Sukabumi dengan Bogor, Cianjur, dan Bandung Barat—wilayah dengan dinamika ekonomi dan sosial yang terus berkembang.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sukabumi sebesar 5,15 persen pada 2024 dengan PDRB harga berlaku mencapai Rp88,14 triliun. Namun demikian, tantangan ketenagakerjaan dan sosial masih membutuhkan dukungan akses transportasi yang lebih luas dan terjangkau.
Peran strategis Stasiun Sukabumi diperkuat oleh layanan kereta api yang beroperasi. KA Pangrango menghubungkan Sukabumi dengan Bogor serta jaringan Commuter Line Jabodetabek. Sementara itu, KA Siliwangi melayani relasi pulang-pergi Sukabumi–Cipatat yang menghubungkan Kabupaten Bandung Barat, Cianjur, serta Kota dan Kabupaten Sukabumi. Kedua layanan ini membentuk koridor konektivitas regional yang memperluas jangkauan aktivitas ekonomi, pendidikan, dan sosial masyarakat.
Integrasi antarsimpul juga diperkuat di Bogor. Stasiun Bogor dan Stasiun Bogor Paledang terhubung melalui skybridge sepanjang sekitar 200 meter, memungkinkan pengguna Commuter Line melanjutkan perjalanan menuju Sukabumi dengan KA Pangrango secara mudah dan efisien.
Integrasi ini menempatkan Bogor sebagai simpul pengumpan utama yang memperluas akses Sukabumi ke kawasan metropolitan.
Dampak nyata dari konektivitas tersebut tercermin pada pertumbuhan volume penumpang. Stasiun Sukabumi mencatat 264.001 penumpang pada 2020, 144.780 pada 2021, kemudian meningkat signifikan menjadi 425.289 pada 2022, 674.483 pada 2023, 733.345 pada 2024, dan mencapai 768.461 penumpang pada 2025.
Tren ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap kereta api sebagai moda transportasi utama.
Pertumbuhan serupa juga terlihat pada layanan Commuter Line di Stasiun Bogor, yang naik dari 7,74 juta pengguna pada 2020 menjadi 18,20 juta pengguna pada 2025. Lonjakan ini memperkuat peran Bogor sebagai gerbang konektivitas Sukabumi sekaligus menegaskan keterkaitan erat antara prasarana yang memadai dan layanan transportasi yang terintegrasi.
Anne menegaskan bahwa keterhubungan antardaerah melalui kereta api menciptakan efek berganda bagi pembangunan wilayah. Akses yang semakin baik mendorong mobilitas tenaga kerja, penguatan UMKM, peningkatan pergerakan pelajar, serta pengembangan pariwisata daerah.
“Wilayah yang terhubung dengan baik akan tumbuh lebih cepat. Dukungan prasarana dari pemerintah dan peran KAI sebagai operator menjadikan kereta api sebagai pengungkit pembangunan wilayah yang berkelanjutan,” tutup Anne.








