oleh

PEMKOT BANDUNG OPTIMIS CAPAI 30 PERSEN VAKSIN BOOSTER DI APRIL INI

Bandung (BRS) – Menjadi syarat wajib bagi warga yang akan melakukan perjalanan mudik, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung kini akan lebih gencar dalam memberikan vaksin ketiga atau booster bagi warga. Ditambah lagi dengan adanya informasi bahwa angka kasus konfirmasi aktif Covid-19 di Kota Bandung semakin menurun.

“Per 28 Maret 2022, rata-rata konfirmasi aktif di Kota Bandung mencapai 186 kasus per hari,” papar Ketua Harian Satgas Covid-19 Bandung, Asep Gufron usai rapat terbatas evaluasi PPKM level 3 di Balai Kota Bandung, Selasa (29/3/2022).

“Gelombang omicron di Kota Bandung telah melewati puncaknya. Puncak kasus kita terjadi pada 24 Februari 2022 yaitu 1.739 kasus. Saat ini sedang terjadi penurunan kasus,” imbuhnya.

Untuk menekan penyebaran Covid-19, lanjut Asep, Pemkot Bandung akan melakukan percepatan vaksinasi booster. Sampai saat ini, vaksin dosis ketiga di Kota Bandung sudah mencapai 22,01 persen.

“April ini, targetnya sebelum Idul Fitri kita sudah mencapai vaksinasi dosis tiga di angka 30 persen. Untuk sekarang, persentase vaksin booster Kota Bandung masih tertinggi se-Jawa Barat,” tegasnya.

Pelandaian konfirmasi positif, kata Asep, juga terlihat dari jumlah bed occupancy rate (BOR) yang sudah mengalami kekosongan di beberapa titik.

“Bahkan tempat isolasi yang tersedia di 30 kecamatan se-Kota Bandung pun tak terisi sama sekali sampai Senin kemarin,” ungkapnya.

“Antapani Kidul memang sempat tinggi beberapa hari terakhir, tapi sudah mulai membaik. Dari semula 300 kasus lebih, sekarang hanya 73 kasus,” katanya lagi.

Untuk tempat isolasi terpusat pun beberapa di antaranya sudah tidak dioperasikan.

“Untuk saat ini, akan kita fokuskan ke Eks Akper Sukapura dengan kapasitas 100 tempat tidur. Ada juga beberapa tempat lokasi terpusat lainnya, yakni BPSDM Jabar dan tiga hotel,” imbuhnya.

Menanggapi penurunan kasus Covid-19, Plt. Wali Kota Bandung, Yana Mulyana mengatakan, Pemkot akan mengakselerasi dosis ketiga ini dengan bantuan pihak kewilayahan.

“Karena ada regulasi harus tiga bulan dulu dari dosis kedua, maka kita akan menyisir dulu melalui teman-teman kewilayahan bersama puskesmas terkait data warga yang sudah bisa melakukan booster,” kata Yana.

Untuk jelang Ramadan, Yana mengatakan, akan sangat berhati-hati dalam mengambil kebijakan relaksasi.

“Kami juga melakukan arahan dari pemerintah pusat untuk meningkatkan ekonomi. Namun, tentu harus tetap memperhatikan prokes dan regulasi yang sudah ada,” pungkas Yana.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed