Bandung (BRS) – Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Jawa Barat menegaskan komitmennya menjadi mitra strategis sekaligus kritis bagi pemerintah daerah. Organisasi ini siap mengawal kebijakan pemerintah dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan serta kemajuan masyarakat Jawa Barat.
Komitmen tersebut disampaikan Ketua DPD PA GMNI Jawa Barat, Ineu Purwadewi Sundari, seusai pengukuhan kepengurusan masa bakti 2026–2031 di Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Sabtu (24/10/2026).
Ineu mengatakan, konsolidasi organisasi telah dilakukan hingga tingkat kabupaten dan kota. Berbagai gagasan dari alumni GMNI di daerah dihimpun untuk memperkuat peran organisasi dalam menjawab persoalan pembangunan di Jawa Barat.
Menurutnya, PA GMNI memiliki potensi besar karena para alumninya berasal dari beragam latar belakang profesi dan sektor. Potensi tersebut perlu disatukan agar dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Kami sepakat menjadi mitra strategis dan kritis terhadap pemerintahan daerah. Sebagai alumni yang ada di Jawa Barat, kami juga harus memberikan kontribusi nyata seperti yang disampaikan oleh Pak Gubernur,” ujar Ineu.
Pemilihan Gedung Merdeka sebagai lokasi pengukuhan juga memiliki makna tersendiri. Bangunan bersejarah tersebut menjadi simbol perjuangan kemerdekaan dan solidaritas bangsa-bangsa Asia-Afrika, sekaligus merepresentasikan semangat kebangsaan yang diwariskan para pendiri bangsa, termasuk Bung Karno.
Ineu berharap, nilai-nilai sejarah tersebut dapat memperkuat komitmen kebangsaan para alumni GMNI sekaligus menjadi pijakan dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
“Kami harapkan itu juga menjadi bagian penguatan dan komitmen yang akan dilakukan alumni GMNI di Jawa Barat untuk Jawa Barat, dalam menghadapi tantangan zaman yang harus diselesaikan secara bersama-sama,” katanya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menekankan pentingnya keberpihakan terhadap masyarakat adat dan tradisi untuk menjaga jati diri bangsa.
Menurut Dedi, nilai marhaenisme, sosialisme, dan nasionalisme harus diwujudkan melalui keberpihakan nyata kepada masyarakat tradisional, termasuk perlindungan terhadap tradisi dan ruang hidup mereka.
“Kalau kita bicara tentang marhaenisme, bicara tentang sosialisme, sosialisme nasionalisme, ya harus berpihak pada tradisionalisme. Karena kemurnian bangsa ini ada pada masyarakat adat dan tradisi,” pungkasnya.
Foto: Gesuri.id








