Bandung (BRS) – Kesan pertama wisatawan terhadap sebuah kota bisa dimulai bahkan sebelum mereka meninggalkan bandara. Bagi Kota Bandung, momen itu kini coba diperkuat melalui Bandara Internasional Husein Sastranegara yang kembali melayani penerbangan komersial.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung memperkuat branding kawasan bandara agar wisatawan yang tiba tidak hanya melihat fasilitas transportasi, tetapi juga langsung mengenali karakter dan identitas Bandung.
Kepala Disbudpar Kota Bandung Adi Junjunan Mustafa mengatakan, Bandara Husein memiliki posisi strategis sebagai salah satu pintu masuk wisatawan ke Kota Bandung. Karena itu, identitas kota perlu hadir sejak langkah pertama wisatawan menginjakkan kaki di Bandung.
“Pemerintah Kota Bandung berkolaborasi dengan bandara dan pihak swasta. Kita cukup intensif untuk me-branding Kota Bandung. Ini belum tuntas dan terus akan kita matangkan,” ujar Adi di Balai Kota Bandung, Senin (31/8/2026).
Upaya tersebut diwujudkan melalui sejumlah ornamen dan visual yang merepresentasikan Bandung. Di area bandara, misalnya, terdapat tempat duduk serta elemen berbentuk kabin yang menjadi bagian dari konsep visual branding.
Pengalaman itu kemudian diperkuat dengan layar LED berukuran panjang hingga sekitar 10 meter. Layar tersebut menampilkan berbagai pesan bernuansa Bandung, termasuk ungkapan khas seperti “wilujeng landing” dan “sampurasoon”.
“Yang menjadi ikon itu sudah ada tempat duduk kemudian ada kabin. Itu khas, apalagi dengan LED yang panjang sampai 10 meter dan menampilkan kata-kata yang Bandung,” kata Adi.
Menurutnya, konsep branding tersebut telah mendapat persetujuan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan dan dikembangkan melalui kolaborasi dengan desainer.
Namun, identitas Bandung yang ingin ditampilkan tidak berhenti pada ornamen dan bahasa khas. Disbudpar juga membawa pesan inklusivitas melalui karya seni penyandang disabilitas.
Salah satunya berupa lukisan karya Muhammad Syafiq atau Oki, yang sebelumnya ditampilkan dalam rangkaian Asia Afrika Festival. Karya tersebut dinilai memiliki pesan kuat untuk ditempatkan di area bandara karena memadukan unsur seni dengan semangat inklusivitas.
“Dibuatnya juga oleh difabel. Buat Pak Wali, Bandung itu kota inklusif, kota yang sangat terbuka. Siapa pun bisa memberikan kontribusi buat Kota Bandung,” ujar Adi.
Di sisi lain, Disbudpar masih memantau dampak kembali beroperasinya penerbangan Garuda Indonesia dari Bandara Husein. Penerbangan perdana kembali dilayani pada 14 Agustus 2026 sehingga evaluasi masih diperlukan, terutama terkait frekuensi penerbangan dan jumlah penumpang.
“Kita nanti evaluasi dan koordinasi dengan pihak bandara. Penerbangan juga baru setengah bulan,” katanya.
Adi melihat kembalinya penerbangan berpotensi mendorong peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara.
“Yang sangat akan berubah itu jumlah kunjungan wisman. Mungkin akan lebih banyak dibandingkan sebelumnya,” pungkasnya.








