Jakarta (BRS) – PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat total emisi dari perjalanan pelanggan selama Angkutan Lebaran (Angleb) 2026 mencapai 8,9 juta kg CO₂e. Angka ini dinilai jauh lebih rendah dibandingkan jika perjalanan dilakukan menggunakan kendaraan pribadi.
Dalam keterangannya, Selasa (7/4/2026), Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyebut pilihan masyarakat beralih ke kereta api berdampak signifikan terhadap pengurangan emisi karbon.
“Setiap pelanggan yang memilih kereta api turut berperan menekan emisi karbon. Dalam jutaan perjalanan, dampaknya menjadi sangat signifikan bagi lingkungan,” ujarnya.
KAI mencatat, jika perjalanan yang sama dilakukan dengan mobil pribadi, emisi yang dihasilkan bisa melonjak tajam: kendaraan 1000 cc mencapai 20,5 juta kg CO₂e, 2000 cc sebesar 32,5 juta kg CO₂e, dan 3000 cc menembus 41,5 juta kg CO₂e.
Selama periode 11 Maret hingga 1 April 2026, KAI melayani 4,24 juta pelanggan kereta api jarak jauh, dengan okupansi mencapai 118,9 persen dari kapasitas. Tingginya angka ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan publik terhadap transportasi massal yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Sebagai gambaran, perjalanan KA rute Surabaya Gubeng–Ketapang menghasilkan emisi sekitar 2,94 kg CO₂e, jauh lebih rendah dibanding mobil pribadi yang mencapai 8,79 kg CO₂e untuk rute serupa.
Untuk meningkatkan kesadaran, KAI menghadirkan fitur Carbon Footprint di aplikasi Access by KAI agar pelanggan dapat memantau estimasi emisi perjalanan.
“Transparansi ini penting agar masyarakat memahami bahwa setiap perjalanan punya dampak, dan kereta api adalah pilihan dengan emisi lebih rendah,” kata Anne.
Selain itu, KAI juga menjalankan sejumlah inisiatif ramah lingkungan, mulai dari penyediaan water station, penggunaan face recognition untuk boarding tanpa tiket kertas, hingga peralatan makan ramah lingkungan di dalam kereta.
“Kami berterima kasih atas kepercayaan pelanggan. Setiap perjalanan menjadi kontribusi nyata dalam menjaga lingkungan,” tutupnya.







