Bio Farma Perkuat Aliansi Vaksin OKI

Bandung (BRS) – PT Bio Farma (Persero) menegaskan komitmennya dalam mendorong kemandirian vaksin negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) melalui partisipasi aktif pada 4th Meeting of the OIC Vaccine Manufacturers Group (OIC VMG) yang digelar 9–10 Februari 2026 di Islamabad, Pakistan.

Forum yang diselenggarakan Standing Committee for Scientific and Technological Cooperation of OIC (COMSTECH) ini mempertemukan produsen vaksin, regulator, lembaga internasional, serta mitra pembangunan untuk memperkuat kapasitas manufaktur dan membangun arsitektur keamanan kesehatan kolektif di kawasan OKI.

Pertemuan tersebut dihadiri Menteri Layanan Kesehatan Nasional Pakistan Syed Mustafa Kamal, Assistant Secretary-General OIC Bidang Sains dan Teknologi Aftab Ahmad Khokher, serta Coordinator General COMSTECH Prof. Dr. Muhammad Iqbal Choudhary. Sejumlah perwakilan dari WHO, Islamic Development Bank (IsDB), SESRIC, SMIIC, regulator vaksin, dan industri manufaktur dari berbagai negara anggota OKI turut ambil bagian.

Dalam sambutannya, Syed Mustafa Kamal menyoroti tingginya ketergantungan Pakistan terhadap 13 jenis vaksin impor dan menargetkan penguatan produksi dalam negeri pada 2030 melalui kolaborasi strategis antarnegara OKI. Ia juga mengusulkan pembentukan aliansi vaksin OKI untuk memenuhi kebutuhan sekitar 1,9 miliar penduduk di negara-negara Islam.

Muhammad Iqbal Choudhary menambahkan, pengalaman pandemi COVID-19 dan gangguan rantai pasok global menjadi pelajaran penting bahwa kemandirian vaksin merupakan kebutuhan strategis, terutama bagi negara dengan beban penyakit tinggi dan populasi besar.

Dari 57 negara anggota OKI, saat ini baru sekitar 10 negara yang memiliki fasilitas produksi vaksin, dan hanya dua di antaranya—Senegal dan Indonesia—yang produknya telah memperoleh pengakuan WHO. Kondisi tersebut menunjukkan urgensi penguatan kapasitas manufaktur dan harmonisasi standar mutu di kawasan.

Indonesia sendiri telah ditetapkan sebagai Center of Excellence on Vaccine and Biotech Products sejak OIC Health Minister Meeting di Jeddah tahun 2017. Melalui mandat itu, Bio Farma bersama pemangku kepentingan nasional menjalankan pelatihan produksi dan pengendalian mutu, riset vaksin inovatif, hingga kolaborasi alih teknologi dengan negara anggota OKI.

Implementasi konkret dilakukan melalui reverse linkage project antara Bio Farma dan Institut Pasteur de Dakar, Senegal, dengan dukungan IsDB. Selain itu, Indonesia secara konsisten menyelenggarakan pelatihan vaksinologi melalui program OIC COMSTECH Fellowship pada 2022–2024 sebagai bagian dari penguatan sumber daya manusia.

Kepala Departemen International Relation Bio Farma, Astri Rahmawati, menegaskan bahwa penguatan kapasitas vaksin di kawasan OKI membutuhkan pendekatan kolaboratif dan terstruktur.

“Bio Farma meyakini kemandirian vaksin di kawasan OKI hanya dapat dicapai melalui sinergi penguatan fasilitas produksi, transfer teknologi, harmonisasi standar mutu, serta pengembangan SDM. Indonesia melalui Bio Farma siap menjadi mitra strategis dalam membangun ekosistem manufaktur vaksin yang berkelanjutan dan berstandar internasional,” ujar Astri.

Sebagai BUMN farmasi yang berdiri sejak 1890 dengan kapasitas produksi lebih dari 3,1 miliar dosis per tahun, Bio Farma memasok vaksin ke lebih dari 150 negara serta mengembangkan sejumlah vaksin strategis seperti Typhoid Conjugate Vaccine (TCV), Rotavirus, dan novel Oral Polio Vaccine (nOPV).

Keaktifan Bio Farma di WHO, UNICEF, CEPI, Gavi, serta perannya sebagai Chair of the Board DCVMN semakin memperkuat posisi Indonesia tidak hanya sebagai pemasok, tetapi juga mitra strategis dalam membangun ketahanan kesehatan global.

Melalui OIC VMG, Bio Farma menegaskan komitmen memperkuat kolaborasi industri intra-OKI, integrasi rantai pasok regional, serta model alih teknologi yang berkelanjutan demi mewujudkan kemandirian vaksin dan ketahanan kesehatan dunia Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *